Semua Sendiri
Seperti cerita Franky, bakat musik Petra memang sudah terlihat sedari kecil. “Dari umur 3 tahun aku sudah nyanyi. Pas mulai gede, biasalah anak cowok, jadi malu nyanyi,” cerita pria kelahiran 10 April 1992 ini. Berhenti sejenak dari nyanyi, Petra melirik alat musik. Namun, mulai main drum di usia 7 tahun, dan gitar di usia 12 tahun, Petra tak merasa cukup. Usia 13 tahun, ia mulai membuat lagu dan mengaransemen. Musikalitas Petra terasah karena terbiasa bermain musik bersama ayahnya.
“Kalau Papa tur, aku biasanya ikut. Ngiringin gitar,” tutur Petra yang setelah membuat sejumlah lagu, makin menggebu berkarir di dunia musik. “Aku pikir, kalau cuma main-main aja, enggak ada tujuannya, buat apa? Jadi aku memutuskan untuk bikin album.” Dukungan dari keluarganya membuat Petra makin serius. Ia pun mulai menggarap album dengan lagu dan aransemen ciptaan sendiri. “Waktu aku umur 15 tahun, albumnya sebenarnya sudah jadi. Dari 15 lagu, udah dipilih 10. Aku sudah ngasih ke label-label gede, tapi enggak ada yang mau terima.”
Tak putus asa, Petra membuat ulang albumnya. Tujuh lagu baru diciptakan. Ia pun menggarap album bertitel namanya sendiri ini dengan lebih serius, hingga memakan waktu 2 tahun. Namun, kali ini Petra tak lagi berharap pada label rekaman, melainkan memproduksi secara indie. “Papa sampai jual mobil untuk biayain album pertamaku ini,” kisah Petra yang tak banyak melibatkan sang ayah dalam penggarapan lagu. “Papa cuma ngisi bas di 3 lagu,” ungkap Petra yang malah merasa beruntung punya album indie. “Lebih bebas berkreasi.” Selama ini, Petra ternyata memang suka mendengarkan musik indie. “Aku suka dengerin , buat dapat sound yang aneh-aneh,” ujar Petra yang meski tak didukung dana besar, mencoba membuat video klip sendiri.
Enggak Setengah-Setengah
Dari sini dewi fortuna mulai berpihak pada Petra. Baru saja video klip selesai, Petra “dilamar” sebuah label. Ia pun mulai menjelajah berbagai program musik. Acara Dahsyat di RCTI adalah penampilan perdana Petra di layar kaca. Membawakan lagu andalannya, Cinta Tak Kemana-Mana (CTK) , Petra langsung menuai banyak pujian. CTK pun berlanjut diputar di berbagai radio. Konon, banyak remaja yang menggandrungi penampilan Petra, hingga pihak RCTI memintanya tampil di acara ulang tahun. Ini adalah prestasi yang cukup membanggakan, mengingat besarnya event dan mayoritas artis pengisi acara yang sudah punya nama besar.Meski kini mulai dikenal, Petra tak lantas terbuai. Pengagum John Meyer ini tetap fokus menjalani hari-harinya sebagai siswa di Institut Musik Daya, Kemang. “Prakuliah dulu 2 tahun, habis itu baru kuliah 4 tahun. Aku ambil gitar, minornya piano,” cerita Petra. Berhubung jadwal prakuliah hanya 2 kali seminggu, Petra punya banyak waktu luang.
Meski begitu, pria yang belum punya pacar ini mengaku jarang keluar rumah. “Aku enggak terlalu bergaul. Aku lebih suka di kamar, utak-atik musik aja. Kebetulan di rumah aku juga punya studio kecil,” ungkapnya sambil tertawa ringan.
Diakui Petra, pengaruh sang ayah amat terasa dalam musiknya. “Resminya aku enggak pernah diajarin Papa. Tapi, karena sudah ikut Papa dari kecil, otomatis aku belajar bikin lagu, struktur lagu, semuanya ya, dari lagu-lagu Papa.” Yang unik, nama besar sang ayah di bidang musik rohani, tak membuat Petra tergiur. “Aku sih, enggak ingin main musik alirannya Papa. Papa juga enggak pernah maksain . Dari dulu Papa cuma menekankan, mesti serius sama yang kita sukai. Enggak boleh setengah-setengah.”
Petra sendiri menjamin dirinya tak akan setengah-setengah. “Malahan, musik itu obsesiku,” tandas Petra yang hanya tersenyum saat dibandingkan dengan Afghan dan Vidi Aldiano. “Enggak bisa dibilang saingan juga, secara tipe musiknya beda banget. Afgan lebih ke mellow , Vidi Pop RnB, sementara aku lebih ke konsep band.”
Love in Perth merupakan film pertama pelantun Cinta Takkan Kemana ini. Jika disuruh memilih, Petra memang enggan meninggalkan musik yang telah ditekuninya sejak usia dini.Mengambil lokasi syuting di Jakarta dan Australia, Petra berperan sebagai Ari yang terlibat cinta segitiga dengan Gita Gutawa (Lola) dan Derby Romero (Dani).
Jika ada kesempatan main film lagi, Petra Sihombing ingin mendapat peran yang seru. Tapi jika ditawari menjadi peran psycho, dia ragu untuk menerimanya.“Sempat kepikiran untuk jadi peran pembunuh dan psycho gitu. Tapi, enggak deh kayaknya. Itu agak aneh sih kayaknya, tapi seru,” ujarnya bimbang saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.
Pelantun Cinta Takkan Kemana ini sudah mendapat kesempatan bermain dalam film Love in Perth, bersama Gita Gutawa dan Derby Romero. “Aku kepingin banget cari peran yang seru banget, tapi belum pernah dimainin orang. Apa ya? Masih belum tahu,” ujarnya sambil tertawa.
Jika ada tawaran baru, Petra belum punya bayangan jenis film apa yang akan diterimanya. “Tapi yang pasti, bukan film horor,” tegasnya.
Saat ini, mahasiswa tingkat satu di Institut Musik Daya ini sepertinya lebih konsentrasi meniti karir di dunia musik.
Saat ini, mahasiswa tingkat satu di Institut Musik Daya ini sepertinya lebih konsentrasi meniti karir di dunia musik.

Sepertinya Petra Sihombing tak mau menjadi musisi setengah-setengah. Dia pun menekuni hobi yang juga cita-citanya itu dengan menempuh pendidikan di Institut Musik Daya.“Sekarang masih masuk semester dua. Sejauh ini aku masih bisa mengatur antara kerjaan sama kuliah,” tutur Petra saat dijumpai di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (4/2/2011).
Kesibukan di film dan musik, tak membuatnya ingin cuti kuliah. Sejauh ini dia masih bisa mengatur jadwal kesibukannya.
“Nanti saja kalau sudah terlalu ribet baru bisa milih,” tandasnya.
Tentang pendidikan tinggi yang dipilihnya, Petra mengakui, bahwa mempelajari musik tidaklah mudah. “Kuliah musik ternyata enggak mudah. Ada tentang ini yang ternyata sulit juga dipelajari,” paparnya sambil terus tertawa.
Jika disinggung masalah prioritas, Petra mengatakan semuanya adalah prioritas. Termasuk kesibukannya menjadi aktor.
“Aku ambil spesialis gitar. Dari umur tujuh tahun, aku memang sudah planning jadi musisi, karena aku enggak bisa olahraga, basket, bola,” kata dia.
Musik telah menjadi jalur hidup Petra. Dia pun tak mau terlalu ngoyo menjalani kesibukannya saat ini.
“Flow saja. Sekarang gue ambil les gitar, piano, kalau kuliah, itu aku juga ambil composing dan produser. SMA juga sempat ngeband,” tukasnya....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar