
Dibantu jasa arsitek, hunian yang dibeli orang tua Petra pada tahun 2000 ini akhirnya rampung dibangun dalam kurun waktu 1,5 tahun.
“Dulu kami tiap dua tahun sekali kontrak rumah, terus pindah. Tapi, pindah-pindahnya di daerah sini juga. Akhirnya, kami berpikir harus punya rumah dan menabung, jadilah beli di sini. Belinya pun bukan dari lahan kosong. Jadi, ada rumah bobrok yang kami beli, lalu dihancurkan. Setelah itu, kami bangun, dan jadinya ya seperti ini,” kata Petra mengawali cerita. Keterbatasan lahan selalu menjadi persoalan utama saat merancang rumah.

Tak pelak, penyanyi bernama lengkap Petra Joshua Sihombing ini harus cermat dalam menata rumah yang berdiri di atas lahan seluas 300 meter persegi tersebut. Hal ini juga yang menjadi alasan, kenapa konsep minimalis yang dipilih.
“Dari awal, aku memang suka minimalis, lebih enak melihatnya. Aku tidak terlalu suka rumah yang isi di dalamnya terlalu banyak dan pembagian rumah yang menggunakan sekat. Rumah ini adalah salah satu rumah yang pembagian ruangnya sedikit sekali. Kalau mau dilihat, rumah-rumah lain yang bertanah 300 meter persegi tampak sangat kecil karena sekat. Padahal, kalau kita lihat rumah ini 300 meter persegi sudah gede banget. Enak aja melihatnya. Kesannya seperti punya rumah gede, padahal kecil. Selain itu, terlihat plong banget,” ungkap Petra.


Hunian ini memang meminimalkan kehadiran sekat meskipun sebenarnya kehadiran sekat diganti dengan material kaca sehingga sekat seakan-akan hilang. Hasilnya, hunian terasa seperti satu kesatuan. Menariknya lagi, material kaca juga seolah menghilangkan konsep yang sebenarnya diterapkan di rumah ini, yakni dua bangunan yang dipisahkan taman di dalam rumah.
“Kami sengaja membagi rumah menjadi dua bangunan. Satu bangunan untuk area publik, satu lagi untuk area privat supaya privasi masing-masing dari kami tetap bisa terjaga. Apalagi kami tipe orang yang sering mengundang orang main ke rumah. Jadi, walaupun rumah ramai,mama dan papaku masih bisa diam di kamar atau di bangunan satu lagi, aku dan adik-adikku juga begitu. Jadi, tidak terganggu sama sekali,” tutur pelantun lagu Inilah Cintaku ini.
Dilihat dari fasad bangunan, konsep minimalis lebih banyak menampilkan kesederhanaan yang tampak pada bentuknya. Seperti tidak ada profil dan berbagai ornamen atau segala sesuatu yang menampilkan ukiran detail yang menonjol. Prinsip itu pula yang diterapkan di rumah Petra.
Pada fasadnya, bangunan ini lebih banyak menampilkan unsur garis-garis yang sederhana. Begitu pun dalam hal warna, Petra lebih banyak menggunakan warna-warna netral dan tidak mencolok seperti abu-abu, hitam, dan putih. Sementara, untuk konstruksinya, penyanyi kelahiran 18 tahun lalu ini banyak menghilangkan dinding masif, seperti dinding beton dan unsur kayu. Sebagai gantinya, menggunakan baja dan material kaca.
“Kalaupun ada tembok, itu hanya beberapa persen. Itu pun diterapkan di bangunan yang pertama saja. Sementara, di bangunan kedua hampir tidak ada tembok. Rata-rata kami menggunakan kaca yang dilapisi tripleks supaya tidak terlalu kelihatan,” ungkap anak sulung Franky Sihombing itu.
Kesan sederhana yang ditampilkan pada bangunan rumah ini tidak hanya tampak dari fasad hunian. Penataan interiornya pun berprinsip serupa. Konsep simpel dan praktis seolah menjadi cermin kehidupan si empunya rumah yang tidak menyukai hal-hal rumit.
Pada bangunan pertama, untuk lay out ruang secara keseluruhan, area publik ini tidak dibagi secara tegas. Semua ruang seperti tampil menyatu dan luas.
Hal itu tampak dari bukaan yang didesain besar sehingga aktivitas di dalam rumah bisa terlihat lebih leluasa. Dari pintu utama akan langsung tampak ruang makan, lengkap dengan pantry-nya. Ruang makan dilengkapi enam kursi warna hitam berdesain minimalis yang dipadukan dengan meja makan berwarna merah.
Sementara, area pantry mengusung warna abu-abu dan krem pada kitchen set-nya. Melangkah ke ruang di sebelahnya yang dibatasi tangga, dalam ukuran yang cukup luas pula dibuatlah ruang tamu yang menyatu dengan area menonton televisi.
Penataannya dibuat sesimpel mungkin supaya tiap orang yang berkegiatan di area tersebut dapat bergerak secara bebas. Satu set sofa berdesain minimalis warna krem kecokelatan, meja berikut vas bunganya mengisi ruang penerima tamu itu.
Khusus di ruang menonton tersebut, si empunya rumah membuat area yang hampir minim perabot. Area ini hanya dilengkapi satu pesawat televisi plus pengeras suaranya, dua sofa single warna merah, serta karpet bulu binatang.
Sebagai pembeda area, pada bagian penutup lantainya, Petra memilih material batu alam. Di bagian sisi ruangan tersebut, Petra menempatkan beberapa tanaman hias dalam wadah pot. Lanjut ke lantai dua di bangunan pertama, ada studio dan ruang main biliar. Studio musik itu merupakan ruang favorit Petra dan ayahnya.
(SINDO//nsa)


photo rumahnya doongg ..
BalasHapus